Bismillahirrahmanirrahim | Berkata Abdullah ibnu Abbas radhiallahu 'anhu: "Tidaklah datang kepada manusia suatu tahun yang baru melainkan mereka pasti akan membuat bid'ah baru dan mematikan sunnah sehingga hiduplah bid'ah dan matilah sunnah." Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah di dalam kitab Al Bida' wan Nahyu 'anha | Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullahu ta'ala: "Bid'ah lebih disukai Iblis daripada maksiat karena maksiat akan ditaubati sedangkan bid'ah tidak akan ditaubati." Diriwayatkan oleh Al Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah (1/216) | Berkata Sufyan bin Uyainah rahimahullahu ta'ala: "Barangsiapa yang rusak dari kalangan ulama kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan ulama Yahudi dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan ahli ibadah Nasrani." |

Larangan Berfatwa dan Berbicara Agama Tanpa Ilmu

بسم الله الرحمن الرحيم

Berfatwa dalam permasalahan agama merupakan perkara yang sangatlah penting. Karena pentingnya itu, ia tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang. Ia hanya boleh dilakukan oleh orang-orang dari kalangan kaum muslimin yang memiliki kadar ilmu agama yang tinggi dan memiliki ketaqwaan yang baik terhadap Allah ta’ala sehingga dapat mencegah dirinya dari berbicara tentang agama Allah dengan hawa nafsu.

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم telah memberikan peringatan dan kecaman yang sangat tegas dan jelas tentang larangan bagi seseorang untuk berbicara dalam masalah agama tanpa didasari oleh ilmu. Di antara dalilnya adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS Al Isra`: 36]

2. Firman Allah ta’ala:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram.” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” [QS An Nahl: 116]

3. Firman Allah ta’ala:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الفواحش مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ والإثم والبغي بِغَيْرِ الحق وَأَن تُشْرِكُواْ بالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى الله مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [QS Al A’raf: 33]

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

سيأتي على الناس سنوات خداعات، يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق، ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين، وينطق فيها الرويبضة. قيل وما الرويبضة؟ قال: الرجل التافه يتكلم في أمر العامة

“Akan datang kepada manusia masa-masa yang penuh tipu daya. Ketika itu orang yang berdusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberikan amanah sedangkan orang yang amanah dianggap sebagai pengkhianat, dan ruwaibidhah akan berbicara.” Sahabat bertanya: “Apa itu ruwaibidhah?” Nabi menjawab: “Orang dungu yang berbicara tentang urusan masyarakat umum.” [HR Ibnu Majah (4036). Hadits shahih.]

Di dalam riwayat yang lain, lafazh “orang dungu” diganti dengan lafazh “orang fasik”.

5. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia menceritakan bahwa pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم ada seorang Arab badui yang bertanya kepada beliau tentang kapan terjadinya kiamat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Apabila sesuatu urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah datangnya kiamat.” [HR Al Bukhari (59)]

Di antara bentuk menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya adalah bertanya tentang masalah agama kepada orang jahil dalam urusan agama. Hal ini sudah sangat banyak terjadi sekarang, yang mana ini menunjukkan akan sudah semakin dekatnya waktu kedatangan kiamat. Wallahul musta’an.

Perkara bahwa seluruh muslim itu haruslah bertaqwa kepada Allah dan menyampaikan kebenaran walaupun satu ayat tidaklah diragukan lagi. Akan tetapi, masalah berfatwa dalam perkara agama, maka ini tidaklah boleh dilakukan oleh sembarangan orang karena berfatwa itu artinya mengeluarkan pendapat tentang hukum suatu perkara syariat.

Ia hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki kadar ilmu agama yang tinggi dan memiliki ketaqwaan kepada Allah. Kalau seandainya berfatwa itu dilakukan oleh sembarangan orang, maka akan rusaklah agama ini karena akan banyak orang yang berbicara dengan kejahilan dan hawa nafsu.

Allah ta'ala berfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

“Kalau seandainya kebenaran mengikuti keinginan hawa nafsu mereka niscaya akan rusaklah langit, bumi, dan siapa saja yang ada di dalamnya.” [QS Al Mu'minun: 71]

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Jika engkau menaati kebanyakan penduduk bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Tidaklah mereka itu mengikuti kecuali persangkaan, dan tidaklah mereka itu melainkan berdusta.” [QS Al An'am: 116]

وبالله التوفيق

--------------------------------------------

Pertanyaan:

Assalamualaikum Ustadz. Saya bukanlah orang yang ahli dalam ilmu agama, tetapi saya sudah memerintahkan istri dan anak saya untuk mengerjakan amalan shalih yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ada di antara perintah-perintah itu yang saya tidak mengetahui dalilnya dikarenakan saya adalah orang awam. Saya menyuruh mereka untuk mengerjakan perintah agama akan tetapi saya tidak memiliki dasar ilmu yang tinggi. Mohon penjelasannya ustadz. Terimakasih.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kita dituntut untuk mempelajari agama Islam ini dengan memahami dalil-dalilnya agar kita tidak menjadi orang yang terjerumus ke dalam taqlid buta. Allah berfirman mengisahkan tentang perkataan Rasul-Nya:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujjah yang nyata." [QS Yusuf: 108]

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa apabila kita ingin berdakwah baik dalam tingkatan masyarakat, tingkatan keluarga, ataupun teman maka kita harus melandasi perkataan kita dengan hujjah berupa ilmu dan dalil dari Al Quran maupun hadits.

Apabila seseorang berdakwah tanpa ada landasannya maka bisa jadi dia menyangka telah menyeru kepada kebaikan, namun pada kenyataannya dia telah menyeru kepada kesalahan dan kebid'ahan. Na'udzubillahi min dzalik. Anda dan kita semua tidak boleh membiarkan diri kita terus-menerus membiarkan diri kita berbicara tentang masalah agama tanpa mengetahui landasan hujjahnya.

Apabila anda tidak mampu untuk menguasai atau menghafal dalil suatu perkara agama, hendaknya ada benar-benar yakin bahwa perkara yang anda perintahkan kepada keluarga anda itu memang benar ada dalilnya yang shahih meskipun anda tidak menghafalnya.

Anda bisa mendapatkan ilmu tentang perkara tersebut bisa dari banyak jalan, seperti membaca literatur agama, mendengar rekaman ilmu, dan bertanya kepada orang-orang shalih yang berilmu. Di sinilah tampak jelas akan pentingnya mempelajari ilmu agama dengan sungguh-sungguh agar kita dalam beragama itu tidak hanya sekedar mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

"Menuntut ilmu itu adalah kewajiban atas setiap orang muslim." [HR Ibnu Majah (224). Hadits shahih.]

Ada banyak sekali dalil yang menerangkan tentang keutamaan yang diperoleh apabila seseorang belajar menuntut ilmu agama. Barangkali di suatu saat nanti kami bisa menulis artikel khusus tentang ini. Semoga Allah memudahkan.

Demikian. Wallahu a'lam.

Jumlah tampilan:



Anda memiliki tugas menerjemahkan artikel berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan tidak memiliki waktu untuk mengerjakannya? Kunjungi TransRisalah : Jasa Pengetikan dan Terjemah Bahasa Arab-Indonesia !